Ngaji.web.id - Dalam tayangan Berita Islam Masa Kini atau Beriman Trans TV pada Juni 2014 menerangkan kajian tentang dimanakah Allah? jawaban kajian yang disampaikan persis sebagaimana yang disampaikan kaum salafi(Wahabiyah) yaitu dengan kesimpulan Allah bersemayam diatas Arsy, walaupun tayangan ini sudah lama namun video ini telah menyebar di youtube dan media sosial yang kapanpun dapat ditonton oleh generasi kita.
Berikut videonya:
Untuk itu mari kita bahas apakah benar kajian itu dalam Manhaj Ahlusunnah waljamaah? Biasanya para kaum wahabiyah menggunakan qaul yang mereka klaim pendapatnya imam Syafii, yaitu:
”
روى شيخ الإسلام أبو الحسن الهكاري ، والحافظ أبو محمد المقدسي بإسنادهم
إلى أبي ثور وأبي شعيب كلاهما عن الإمام محمد بن إدريس الشافعي ناصر الحديث
رحمه الله قال: القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل
الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الاقرار بالشهادة
أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وأن الله تعالى على عرشه في
سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله ينزل إلى السماء الدنيا كيف شاء “
“
Syaikhul Islam Abu Hasan Al-Hakary meriwayatkan dan Al-Hafidz Abu
Muhammad Al-Muqoddasi dengan isnad mereka kepada Abu Tsaur dan Abu
Syu’aib, keduanya dari imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I, Nashirul
hadits Rh, beliau berkata “ Pendapat di dalam sunnah yang aku pegang dan
juga para sahabatku dari Ahli hadits yang telah aku saksikan dan aku
ambil dari mereka seperti Sufyan, Malik dan selain keduanya adalah
pengakuan dengan syahadah bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt, Muhammad
adalah utusan Allah dan sesungguhnya Allah Swt di atas Arsy-Nya di dalam
langit-Nya yang mendekat kepada makhluk-Nya kapan saja DIA kehendaki,
dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia kapan saja DIA kehendaki “. (Mukhtashar Al-‘uluw halaman : 176)
Coba Anda Perhatikan Perkataan diatas dari sisi sanadnya:
1. Al-Imam Al-Hafidz Adz-Dzahaby di dalam kitabnya MIZAN AL-I’TIDAL juz : 3 halaman : 112 berkata :
أبي الحسن الهكاري : أحد الكذابين الوضاعين
“ Abu Al-Hasan Al-Hakkari adalah salah satu orang yang suka berdusta dan sering memalsukan ucapan “
2. Abul Al-Qosim bin Asakir juga berkata :
قال أبو القاسم بن عساكر : لم يكن موثوقاً به
“ Dia (Abu Al-Hasan) orang yang tidak dapat dipercaya “
3. Ibnu Najjar berkata :
وقال ابن النجار : متهم بوضع الحديث وتركيب الأسانيد
“ Dia dicurigai memalsukan hadits dan menyusun-nysun sanad “
4. Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab LISAN AL-MIZAN juz : 4 halaman : 159 berkata :
وكان الغالب على حديثه الغرائب والمنكرات ، وفي حديثه أشياء موضوعة
“ Kebanyakan hadits yang diriwayatkannya adalah gharib(langka) dan mungkar dan juga terdapat hadits-hadits palsunya “.
5. Ibrahim bin Muhammad Ibn Sibth bin Al-Ajami di di dalam kitabnya Al-Kasyfu Al-Hatsits juz ; 1 halaman : 184 :
وهو كذاب وضاع
“ Dia adalah seorang yang suaka berdusta dan suka memalsukan hadits”
Dan perhatikan pula dari sisi masanya:
Mereka (wahhabiah) mengaku atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Syu’aib dari imam Syafi’i. Benarkah ?
Ini
sebuah kedustaan yang nyata karena di dalam kitab-kitab tarikh /
Sejarah bahwasanya Abu Syu’aib ini dilahirkan dua tahun setelah wafatnya
imam Syafi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab TARIKH AL-BAGHDADI juz
: 9 halaman : 436…
Sekarang bagaimanakah aqidah imam syafi’i yang sebenarnya tentang Istiwa Allah Swt ?
Berikut
ini qaul-qaul imam Syafi’i yang kami nukil dari kitab-kitab yang
mu’tabar dan dari riwayat-riwayat yang tsiqoh(terpercaya) :
1. Ketika imam Syafi’I ditanya tentang makna ISTAWA dalam al-Quran beliau menjawab :
“ ءامنت بلا تشبيه وصدقت بلا تمثيل واتهمت نفسي في الإدراك وأمسكت عن الخوض فيه كل الإمساك”
ذكره الإمام أحمد الرفاعي في ( البرهان المؤيد) (ص 24) والإمام تقي الدين الحصني في (دفع شبه من شبه وتمرد ) (ص 18) وغيرهما كثير.
“
Aku mengimani istiwa Allah tanpa memberi penyerupaan dan aku
membenarkannya tanpa melakukan percontohan, dan aku mengkhawatirkan
nafsuku di dalam memahaminya dan aku mencegah diriku dari memperdalam
persoalan ini dengan sebenar-benarnya pencegahan “
Ini telah disebutkan oleh imam Ahmad Ar-Rifa’i di dalam kitab “ Al-Burhan Al-Muayyad “ (Bukti yang kuat) halaman ; 24.
Juga
telah disebutkan oleh imam Taqiyyuddin Al-Hishni di dalam kitab Daf’u
syibhi man syabbaha wa tamarrada halaman : 18. Di dalam kitab ini juga
pada halaman ke 56 disebutkan bahwa imam Syafi’I berkata :
ءامنت بما جاء عن الله على مراد الله وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله
“
Aku beriman dengan apa yang datang dari Allah Swt sesuai maksud Allah
Swt, dan beriman dengan apa yang datang dari Rasulullah Saw menurut
maksud Rasulullah Saw “.
Syaikh Salamah Al-Azaami dan lainnya mengomentari ucapan imam syafi’I tsb :
ومعناه لا على ما قد تذهب إليه الأوهام والظنون من المعاني الحسية والجسمية التي لا تجوز في حق الله تعالى.
“
Maknanya adalah bukan seperti yang terlitas oleh pikiran dan
persangkaan dari makna fisik dan jisim yang tidak boleh bagi haq Allah
Swt “
Dan masih banyak lagi yang lainnya.
2. Ketika imam Syafi’i ditanya tentang sifat Allah Swt, beliau menjawab :
حرام
على العقول أن تمثل الله تعالى وعلى الأوهام أن تحد وعلى الظنون أن تقطع
وعلى النفوس أن تفكر وعلى الضمائر أن تعمق وعلى الخواطر أن تحيط إلا ما وصف
به نفسه – أي الله على لسان نبيه صلى الله عليه وسلم –
ذكره الشيخ ابن جهبل في رسالته انظر طبقات الشافعية الكبرى ج 9/40 في نفي الجهة عن الله التي رد فيها على ابن تيمية.
“Haram
bagi akal membuat perumpamaan, Haram bagi pemikiran membuat batasan,
dan haram bagi prasangka untuk membuat statemen, dan Haram juga bagi
Jiwa untuk memikirkan (Dzat, perbuatan dan sifat-sifat) Allah Subhanahu
wa Ta’ala, dan haram bagi hati untuk memperdalam, dan Haram bagi
lintasan-lintasan hati untuk meliputi, kecuali apa yang telah Allah
sifati sendiri atas lisan nabi-Nya Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa
Sallam”
(Telah disebutkan oleh syaikh Ibnu Jahbal di dalam
Risalahnya, lihatlah Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra juz : 9 halaman :
40 tentang menafikan arah dari Allah Swt sebagai bantahan atas Ibnu
Taimiyyah)
3. Di dalam kitab Ittihaafus saadatil muttaqin juz : 2 halaman ; 24, imam Syafi’I berkata :
إنه
تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه
المكانَ لا يجوز عليه التغييرُ في ذاته ولا التبديل في صفاته”
“
Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tanpa tempat, lalu Allah menciptakan
tempat dan Allah senantiasa dalam shifat ‘AzaliNya (tidak berubah)
sebagaimana wujud-Nya sebelum menciptakan tempat. Mustahil bagi Allah
perubahan di dalam Dzat-Nya dan juga perpindahan di dalam
sifat-sifat-Nya”
4. Di dalam kitab Syarh Al-Fiqhu Al-Akbar
halaman : 52, imam Syafi’I berkata yang merupakan keseluruhan pendapat
beliau tentang Tauhid :
من
انتهض لمعرفة مدبره فانتهى إلى موجود ينتهي إليه فكره فهو مشبه وإن اطمأن
إلى العدم الصرف فهو معطل وإن اطمأن لموجود واعترف بالعجز عن إدراكه فهو
موحد
“
Barangsiapa yang berantusias untuk mengetahui Allah Sang Maha
Pengatur-Nya hingga pikirannya sampai pada hal yang wujud, maka ia
adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluq). Dan
jika ia merasa tenang dengan suatu hal yang tiada, maka ia adalah
mu’aththil (meniadakan sifat Allah Swt). Dan jika ia merasa tenang pada
kewujudan Allah Swt dan mengakui ketidak mampuan untuk memahaminya, maka
ia adalah MUWAHHID (orang yang mengesakan Allah Swt) “
Sungguh
imam Syafi’I begitu jeli dan luas pemahamannya akan hal ini, beliau
sungguh telah mengambil dari ayat-ayat Allah Swt dalam Al-Quran :
- {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ } [سورة الشورى]
“ Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Allah “
“ Janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah Swt “
- :{هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا } [سورة مريم]
“ Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia ? “
Semua
ini membuktikan bahwa imam Syafi’I Ra mensucikan Allah Swt dan
sifat-sifat-Nya dari apa yang terlintas dalam pikiran berupa makna-makna
jisim / fisik seperti duduk, dibatasi dengan arah, tempat, gerakan dan
diam serta yang semisalnya dan inilah aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah.
Ketika imam Syafi’I ditanya tentang makna ISTAWA dalam Al-Quran beliau menjawab :
“ Aku mengimani istiwa Allah tanpa memberi penyerupaan dan aku membenarkannya tanpa melakukan percontohan, dan aku mengkhawatirkan nafsuku dalam memahaminya dan aku mencegah diriku dari memperdalam persoalan ini dengan sebenar-benarnya pencegahan “
Ini telah disebutkan oleh imam Ahmad Ar-Rifa’i di dalam kitab “Al-Burhan Al-Muayyad “ halaman ; 24
Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Argumentasi atas ini ialah bahwa
Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Maka setelah menciptakan
tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang azali sebelum Dia menciptakan tempat; yaitu ada tanpa tempat.
Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik perubahan pada
Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya Karena sesuatu yang memiliki tempat
maka ia pasti memiliki arah bawah.
Dan bila demikian maka ia pasti memiliki bentuk tubuh dan batasan. Dan
sesuatu yang memiliki batasan pasti sebagai makhluk, dan Allah maha suci
dari pada itu semua. Karena itu mustahil pada haknya terdapat istri dan
anak. Sebab hal semacam itu tidak akan terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel dan terpisah. Allah mustahil pada-Nya ,sifat terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya istilah suami,istri dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil (al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h.13)
Jika diatas pendapat-pendapat Imam Syafi'i, beriut pendapat imam-imam yang lain:
“ Allah ta’ala di akhirat kelak akan dilihat. Orang-orang mukmin akan melihat-Nya ketika
mereka di surga dengan mata kepala mereka masing-masing dengan tanpa
adanya keserupaan bagi-Nya, bukan sebagai bentuk yang berukuran, dan
tidak ada jarak
antara mereka dengan Allah artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak
di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan,
samping kanan ataupun samping kiri
Al-Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah dengan Syarahnya karya Mulla ‘Ali al-Qari, hlm.136-137
Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada.
Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan
sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu”
al-Fiqhul Absath karya Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalah nya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h.20
“
Dan kita mengimani adanya ayat “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa”
[sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an] dengan menyakini bahwa Allah
tidak membutuhkan kepada arsy tersebut dan tidak bertempat atau
bersemayam di atasnya. Dia Allah yang memelihara arsy dan lainnya tanpa
membutuhkan kepada itu semua. Karena jika Allah membutuhkan kepada
sesuatu maka Allah tidak akan kuasa untuk menciptakan dan mengatur alam
ini, dan berarti Dia seperti seluruh makhluk-Nya sendiri. Jika
membutuhkan kepada duduk dan bertempat,
lantas sebelum menciptakan makhluk-Nya [termasuk ‘arsy] di manakah
DiaAllah maha suci dari itu semua dengan kesucian yang agung
Al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq
Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh asy-Syekh Mullah
‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h.70
BARANG SIAPA YANG MENGATAKAN ALLAH SWT ITU JISIM YANG TIDAK SEPERTI JISIM YANG LAIN MAKA KAFIR LAH DIA Riwayat Al-Hafidz Badruddin Al-Zarkasyi; Kitab tasynif Al-masami
Aqidah Rasulullah, para sahabatnya, para ulama salaf saleh, dan aqidah
mayoritas umat Islam; Ahlussunnah WalJama’ah ialah bahwa Allah ada
tanpa tempat dan tanpa arah. Kita akan banyak menemukan pernyataan para
ulama terkemuka dari generasi ke generasi dalam menetapkan keyakinan
suci ini. Keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah juga
merupakan keyakinan Syaikhul Muhadditsin al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad
ibn Isma’il al-Bukhari (w 256 H), penulis kitab yang sangat mashur
"Shahih al-Bukhari."
Para ulama yang datang sesudah beliau yang menuliskan syarh bagi
kitabnya tersebut menyebutkan bahwa al-Imam al-Bukhari adalah seorang
ahli Tauhid, beliau mensucikan Allah dari tempat dan arah.
•
Salah seorang penulis Syarh Shahih al-Bukhari, as-Syekh ‘Ali ibn Khalaf
al-Maliki yang dikenal dengan Ibn Baththah (w 449H) menuliskan sebagai
berikut:
“Tujuan al-Bukhari dalam membuat bab ini adalah untuk membantah kaum
Jahmiyyah Mujassimah, di mana kaum tersebut adalah kaum yang hanya
berpegang teguh kepada zhahir-zhahir nash. Padahal telah ditetapkan
bahwa Allah bukan benda, Dia tidak membutuhkan kepada tempat dan arah.
Dia Ada tanpa permulaan, tanpa arah dan tanpa tempat. Adapun penisbatan
“al-Ma’arij” adalah penisbatan dalam makna pemuliaan (bukan dalam
pengertian Allah di arah atas). Juga makna “al-Irtifa’” adalah dalam makna bahwa Allah maha suci, Dia maha suci dari tempat”(Fath al-Bari, j. 13, h:416).
Pernyataan Ibn Bathal ini dikutip oleh al-hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari dan disepakatinya. Dengan demikian berarti keyakinan Allah ada tanpa tempat adalah merupakkan keyakinan para ahli hadits secara keseluruhan.
INGAT, jangan pernah anda berkayakinan bahwa Allah berada di atas arsy
atau berada di langit. mustahil Allah bertempat pada makhluk-Nya
sendiri. Arsy dan langit adalah makhluk Allah.
Takwil dan Tafwid lafadz Istiwa'
Dalam tayangan itu juga menakwil ayat istiwa' dengan kesimpulan Allah menempati arsy-Nya, benarkah demikian? mari kita lihat pendapat para Ulama Ahlusunnah wal jamaah:
Istawa Dalam Tafsir Ibnu Katsir
Tulisan
ini dipersembahkan buat mereka yang tiap minggu Daurah kajian Tafsir
Ibnu Katsir, tapi pemahaman mereka justru berbeda dengan kajian-kajian
mereka, parah nya penyakit Tasybih yang sudah mendarah daging dalam
keras nya hati mereka, membuat mereka sulit menerima fakta
kebenaran-nya, dan membuat mereka tidak bisa menyadari bahaya besar yang
sedang menjerat akidah mereka, hendak nya tulisan ini menjadi semangat
baru bagi mereka agar kembali membuka kembali kajian mereka dan semoga
tulisan ini menjadi pertimbangan dalam kajian ulangan nanti nya.
Kesalahan mereka dalam memahami hakikat Manhaj Salaf telah menjadikan
mereka sebagai fitnah agama ini, sebagai bukti mari lihat Tafsir Ibnu
Katsir tentang “Istawa”atau tentang bab Mutasyabihat umum nya, dan
bagaimana hakikat Manhaj Salaf versi Ibnu Katsir akan kita pahami di
sini.
Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir -Surat al-A’raf – ayat 54 sebagai berikut :
وأما
قوله تعالى: { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام
مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنمايُسلك في هذا المقام مذهب
السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن
حنبل،وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو
إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولاتعطيل. والظاهر المتبادر إلى
أذهان المشبهين منفي عن الله، فإن الله لا يشبهه شيء من خلقه، و { لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌوَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } بل الأمر كما قال الأئمة
-منهم نُعَيْم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري -: “من شبه الله بخلقه فقدكفر،
ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر”. وليس فيما وصف الله به نفسه ولا
رسوله تشبيه، فمن أثبت للهتعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار
الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله
تعالىالنقائص، فقد سلك سبيل الهدى.
“Adapun
firman Allah taala { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } maka bagi manusia
pada tempat ini pernyataan yang banyak sekali, di sini tidak mengupas
semua nya, di sini hanya menempuh Madzhab Salafus Shalih yaitu imam
Malik, dan al-Auza’i, dan Al-tsuri, al-laits bin sa’ad dan imam Syafi’i
dan imam Ahmad dan Ishaq bin rahawaih dan selain mereka dari ulama-ulama
islam masa lalu dan masa sekarang, dan Madzhab Salaf adalah
memperlakukan ayat tersebut sebagaimana datang nya, dengan tanpa takyif
(memerincikan kaifiyat nya) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan
makhluk) dan tanpa ta’thil (meniadakan) dan makna dhohir (lughat) yang
terbayang dalam hati seseorang, itu tidak ada pada Allah, karena
sesungguhnya Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya, dan
[tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia maha mendengar
lagi maha melihat. QS Asy-Syura ayat 11], bahkan masalahnya adalah
sebagaimana berkata para ulama diantaranya adalah Nu’aim bin Hammad
al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata : “Barang siapa yang
menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka sungguh ia telah kafir, dan
barang siapa yang mengingkari sifat yang Allah sifatkan (sebutkan)
kepada diri-Nya, maka sungguh ia telah kafir”. Dan tidak ada penyerupaan
(Tasybih) pada sifat yang disifatkan/disebutkan oleh Allah dan Rasul
kepada diri-Nya, maka barang siapa yang menetapkan bagi Allah taala akan
sesuatu yang telah datang ayat yang shorih (ayat Muhkam) dan Hadits
yang shohih, dengan cara yang layak dengan keagungan Allah taala, dan
meniadakan segala kekurangan dari Allah taala, maka sungguh ia telah
menempuh jalan yang terpetunjuk”.[Tafsir Ibnu Katsir -Surat al-A’raf –
ayat 54] Mari kita pahami uraian Ibnu Katsir tentang “Istawa” di atas pelan-pelan :
فللناس
في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنما يُسلك في هذا
المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بنسعد،
والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما
وحديثا
“maka
bagi manusia pada tempat ini pernyataan yang banyak sekali, di sini
tidak mengupas semua nya, di sini hanya menempuh Madzhab Salafus Sholih
yaitu imam Malik, dan al-Auza’i, dan Al-tsuri, al-laits bin sa’ad dan
imam Syafi’i dan imam Ahmad dan Ishaq bin rahawaih dan selain mereka
dari ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang”
Maksudnya :
pada ayat-ayat Mutasyabihat seperti ayat tersebut ada banyak pendapat
manusia, dan di sini Ibnu Katsir tidak membahas semua nya, hanya
membahas bagaimana pendapat kebanyakan ulama Salaf saja seperti imam
Malik, dan al-Auza’i, dan Al-tsuri, al-laits bin sa’ad dan imam Syafi’i
dan imam Ahmad dan Ishaq bin rahawaih dan selain mereka dari ulama-ulama
islam, dari sini nantinya kita pahami mana Manhaj Salaf / Madzhab Salaf
sebenarnya, agar tidak tertipu dengan tipu daya kaum yang menyebut
Salafy atau yang lebih dikenal Wahabiyah yang juga mengaku bermanhaj
Salaf.
وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل. والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله
“dan
Madzhab Salaf adalah memperlakukan ayat tersebut sebagaimana datang
nya, dengan tanpa takyif (memerincikan kaifiyat nya) dan tanpa tasybih
(menyerupakan dengan makhluk) dan tanpa ta’thil (meniadakan) dan makna
dhohir (lughat) yang terbayang dalam hati seseorang, itu tidak ada pada
Allah”
Maksudnya : Menurut Ibnu Katsir, Manhaj Salaf adalah
memberlakukan ayat-ayat Mutasyabihat sebagaimana datang nya dari
Al-Quran, artinya para ulama Salaf ketika membahas atau membicarakan
atau menulis ayat tersebut, selalu menggunakan kata yang datang dalam
Al-Quran tanpa menggunakan kata lain, baik dengan Tafsirnya atau
Ta’wilnya atau bahkan terjemahannya, atau biasa disebut dengan metode
Tafwidh makna, dan tanpa menguraikan kaifiyatnya, artinya tanpa
membicarakan apakah itu sifat dzat atau sifat fi’il, apakah itu sifat
atau ta’alluq-nya atau lain nya, dan tanpa Tasybih artinya menyerupakan
atau memberi makna yang terdapat penyerupaan di situ, dan tidak
meniadakan nya karena keadaan nya yang tidak diketahui makna nya,
artinya bukan berarti ketika tidak diketahui makna nya, otomatis telah
mengingkari sifat Allah, karena telah menetapkan sifat Allah dengan kata
yang datang dari Al-Quran, sedangkan makna atau terjemahan yang
dipahami oleh seseorang, makna tersebut tidak ada pada Allah, artinya
sebuah makna yang otomatis dipahami ketika disebutkan sebuah kalimat,
maka makna tersebut bukan maksud dari ayat Mutasyabihat, karena makna
tersebut tidak boleh ada pada Allah, kerena dengan menyebutkan makna
tersebut kepada Allah, otomatis ia telah melakukan penyerupaan Allah
dengan makhluk, Ibnu Katsir di atas menyebut dengan sebutan
“Musyabbihin” kepada orang yang memahami makna dhohirnya, ini artinya
menyebutkan makna dhohir kepada Allah otomatis telah menyerupakan Allah
dengan makhluk-Nya, inilah poin penting yang harus diperhatikan oleh
para Salafi Wahabi, bahwa para ulama Salaf dan Khalaf sepakat bahwa
makna terjemahan dhohiriyah dalam bab Mutasyabihat tidak layak dengan
keagungan Allah, dan menjadikan orang nya sebagai orang yang telah
menyerupakan Allah dengan makhluk.inilah metode kebanyakan dari ulama
Salaf, dan nampak jelas perbedaan manhaj Salaf dengan manhaj Salafy
Wahabiyah.
فإن الله لا يشبهه شيء من خلقه، و { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }
“karena
sesungguhnya Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya, dan
[tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia maha mendengar
lagi maha melihat. QS Asy-Syura ayat 11]”
Maksudnya : kenapa
makna dhohirnya tidak boleh, karena Allah tidak serupa sedikit pun
dengan makhluk-Nya sebagaimana disebutkan dalam surat asy-Syura ayat 11,
dan ketika makna dhohirnya terdapat sedikit keserupaan, maka makna
dhohir tersebut tidak boleh pada Allah.
بل
الأمر كما قال الأئمة -منهم نُعَيْم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري -: “من
شبه الله بخلقه فقد كفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر”
“bahkan
masalahnya adalah sebagaimana berkata para ulama diantaranya adalah
Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata : “Barang
siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka sungguh ia telah
kafir, dan barang siapa yang mengingkari sifat yang Allah sifatkan
(sebutkan) kepada diri-Nya, maka sungguh ia telah kafir”.
Maksudnya
: Bukan saja masalah nya sebatas tidak boleh, bahkan orang tersebut
dapat menjadi kafir dengan sebab ini, sebagaimana berkata para ulama
diantaranya adalah Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia
berkata : “Barang siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka
sungguh ia telah kafir, dan barang siapa yang mengingkari sifat yang
Allah sifatkan (sebutkan) kepada diri-Nya, maka sungguh ia telah kafir”.
artinya termasuk dalam orang dihukumi kafir adalah orang yang beriman
dengan makna dhohir, karena sudah dijelaskan di atas bahwa dalam makna
dhohir sudah terkandung Tasybih, dan tidak termasuk dalam mengingkari
sifat Allah adalah orang yang mengingkari makna dhohir, karena alasan
tersebut juga. Maka dapat dipastikan bahwa beriman dengan makna dhohir
dalam masalah ini adalah akidah yang salah, bukan akidah Ahlus Sunnah
Waljama’ah, bahkan bukan Manhaj Salaf, sekalipun tentang hukum kafir
orang nya terdapat perbedaan pendapat ulama, karena kemungkinan
dimaafkan bagi orang awam, mengingat ini adalah masalah yang sulit,
na’uzubillah.
وليس فيما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيه
“Dan tidak ada penyerupaan (Tasybih) pada sifat yang disifatkan/disebutkan oleh Allah dan Rasul kepada diri-Nya”
Maksudnya
: Tidak ada Tasybih pada kata-kata yang datang dalam Al-Quran dan
hadits tentang sifat Allah, bukan pada makna nya, sementara pada makna
nya tergantung bagaimana memaknainya, sekaligus ini alasan kenapa tidak
boleh mengimani makna dhohiriyah, karena semua sifat yang Allah sebutkan
dalam Al-Quran dan Rasul sebutkan dalam Hadits untuk sifat Allah, tidak
ada satupun yang ada Tasybih (penyerupaan), maka makna dhohir tersebut
dapat dipastikan bukan sifat Allah, karena pada nya terdapat keserupaan.
فمن
أثبت لله تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه
الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالى النقائص، فقد سلك
سبيلالهدى.
“maka
barang siapa yang menetapkan bagi Allah taala akan sesuatu yang telah
datang ayat yang shorih (ayat Muhkam) dan Hadits yang shohih, dengan
cara yang layak dengan keagungan Allah taala, dan meniadakan segala
kekurangan dari Allah taala, maka sungguh ia telah menempuh jalan yang
terpetunjuk”.
Maksudnya : Kesimpulan dari uraian di atas, siapa
yang menetapkan bagi Allah akan sifat-sifat yang datang dalam ayat-ayat
yang shorih yakni ayat-ayat yang Muhkam, bukan malah yakin dengan makna
tasybih dalam ayat Mutasyabihat, dan yang datang dalam hadits-hadits
yang shohih, dengan metode yang layak dengan keagungan Allah, bukan
malah dengan metode yang identik dengan makhluk, dan meniadakan pada
Allah segala bentuk kekurangan dari pada sifat-sifat makhluk atau
keserupaan dengan makhluk, maka ia telah menempuh jalan yang terpetunjuk
yaitu bertauhid dengan tauhid yang benar.
Istawa Dalam Tafsir An-Nasafi Dalam
Tafsir an-Nasafi terbukti bahwa Salafy Wahabiyah berdusta atas nama
Al-Quran dan as-Sunnah, dan memfitnah para ulama Salaf atas nama Manhaj
Salaf, mereka dalam bab Mutasyabihat mentafwidh kaifyat dan mentafsirkan
dengan makna dhohir, mereka sangat anti dengan Ta’wil dan mengkafirkan
aqidah Ta’wil, mereka sangan anti dengan Ta’wil Istawa dengan Istaula,
sementara dakwaan mereka sebalik dengan hakikat Manhaj Salaf
sesungguhnya, sebagai bukti mari buka Tafsir an-Nasafi, dan lihat apa
kata Imam an-Nasafi sebagai berikut :
{
استوى } استولى . عن الزجاج ، ونبه بذكر العرش وهو أعظم المخلوقات على
غيره . وقيل : لما كان الاستواء على العرش وهو سرير الملك مما يردف الملك
جعلوه كناية عن الملك فقال استوى فلان على العرش أي ملك وإن لم يقعد على
السرير ألبتة وهذا كقولك «يد فلان مبسوطة» أي جواد وإن لم يكن له يد رأساً ،
والمذهب قول علي رضي الله عنه : الاستواء غير مجهول والتكييف غير معقول
والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة لأنه تعالى كان ولا مكان فهو على ما كان
قبل خلق المكان لم يتغير عما كان .
“Istawa
artinya Istaula (menguasai) dihikayahkan dari Imam az-Zajjaj as-Salafi
(241-311 H), dan memberitahu dengan penyebutan ‘Arasy atas lain nya, dan
dia adalah sebesar-besar makhluk, dan dikatakan : manakala Istiwa’ atas
‘Arasy yaitu singgasana Raja adalah sebagian dari sesuatu yang
berhubungan dengan milik, maka para ulama menjadikan Istiwa’ sebagai
kinayah dari pada milik, maka dikatakan Istawa fulan atas ‘Arasy artinya
memiliki nya, sekalipun ia tidak duduk atas singgasana sama sekali,
demikian seperti perkataan “tangan si fulan luas” artinya pemurah
sekalipun ia tidak punya tangan pada kenyataan nya. Dan pendapat kuat
itu pernyataan Sayyidina Ali –radhiyallahu ‘anhu- : Istiwa’ tidak
majhul, dan menguraikan kaifiyat nya tidak ma’qul, dan beriman dengan
nya wajib, dan bertanya tentang nya Bid’ah, karena sesungguhnya Allah
taala ada dan tidak ada tempat, maka Allah tetap sebagaimana sebelum
menciptakan tempat, Allah tidak berubah sebagaimana ada-Nya”.
{ استوى } استولى . عن الزجاج
“Istawa artinya Istaula (menguasai) dihikayahkan dari Imam az-Zajjaj as-Salafi (241-311 H)” Maksudnya
: Imam an-Nasafi merujuk ke Tafsir Imam az-Zajjaj as-Salafi, dalam
Tafsirnya az-Zajjaj menta’wil Istawa dengan Istaula, inilah bukti bahwa
Ta’wil juga berasal dari Manhaj Salaf, karena sebagian ulama Salaf
melakukan Ta’wil pada sebagian ayat Mutasyabihat, Cuma kebanyakan ulama
Salaf lebih memilih Tafwidh makna dan tidak mengkafirkan ulama yang
bermanhaj Ta’wil, dua manhaj Ta’wil dan Tafwidh adalah metode agar tidak
terjebak dengan Tasybih dalam makna dhohir nya, lain hal nya dengan
Salafi Wahabi yang tidak melakukan Tafwidh seperti Tafwidh nya Salaf,
dan juga mengkafirkan orang yang bermanhaj Ta’wil, dan mereka justru
mentafsirkan nya dengan makna dhohir yang terdapat Tasybih dan Tajsim
pada nya.
ونبه بذكر العرش وهو أعظم المخلوقات على غيره
“dan memberitahu dengan penyebutan ‘Arasy atas lain nya, dan dia adalah sebesar-besar makhluk” Maksudnya
: kenapa disebutkan ‘Arasy bila Istawa bermakna Istaula, padahal Allah
menguasai semua makhluk-Nya, bukan hanya ‘Arasy, maka jawabnya dengan
penyebutan ‘Arasy maka termasuklah semua makhluk lain, karena ‘Arasy
adalah makhluk yang paling besar.
وقيل : لما كان الاستواء على العرش وهو سرير الملك مما يردف الملك جعلوه كناية عن الملك
“dan
dikatakan : manakala Istiwa’ atas ‘Arasy yaitu singgasana Raja adalah
sebagian dari sesuatu yang berhubungan dengan milik, maka para ulama
menjadikan Istiwa’ sebagai kinayah dari pada milik”
Maksudnya :
Sebagian ulama mentafsirkan Istawa dengan makna memiliki, karena punya
hubungan antara makna Istiwa’ dan makna milik, karena tertegah memaknai
nya dengan makna dhohir Istawa, maka kata Istawa adalah kinayah dari
memiliki.
فقال استوى فلان على العرش أي ملك وإن لم يقعد على السرير ألبتة وهذا كقولك «يد فلان مبسوطة» أي جواد وإن لم يكن له يد رأساً
“maka
dikatakan Istawa fulan atas ‘Arasy artinya memiliki nya, sekalipun ia
tidak duduk atas singgasana sama sekali, demikian seperti perkataan
“tangan si fulan luas” artinya pemurah sekalipun ia tidak punya tangan
pada kenyataan nya”
Maksudnya : ketika dikatakan bahwa “si fulan
bersemayam /beristiwa’ atas singgasana, maka artinya si fulan memiliki
singgasana tersebut walaupun ia tidak berada /bersemayam di atas nya,
demikian juga seperti dikatakan “Tangan si fulan luas” maka artinya si
fulan adalah seorang yang pemurah, sekalipun ia tidak punya tangan sama
sekali, karena kata tangan adalah kiasan dari pemurah, sebagaimana
Istawa adalah kiasan dari memiliki.
والمذهب قول علي رضي الله عنه : الاستواء غير مجهول
“Dan pendapat kuat itu pernyataan Sayyidina Ali –radhiyallahu ‘anhu- : Istiwa’ tidak majhul”
Maksudnya
: Pendapat kuat dalam masalah makna ayat Mutasyabihat adalah
sebagaimana Manhaj kebanyakan ulama Salaf yaitu pernyataan Sayyidina Ali
–Radhiyallahu ‘anhu- bahwa Istawa tidak majhul artinya telah dimaklumi
kata Istawa dari Al-Quran dan dimaklumi makna dhohirnya, tapi tidak
dimaklumi makna maksud darinya. Dapatlah diketahui bahwa tentang masalah
makna nash Mutasyabihat adalah masalah khilafiyah, ketika makna
dhohirnya tidak boleh dinisbahkan kepada Allah, maka boleh memaknainya
dengan makna apa saja yang layak dengan keagungan dan kesempurnaan
Allah, sehingga lahirlah bermacam ta’wil dengan makna yang layak dengan
Allah, sementara kebanyakan ulama Salaf lebih memilih tidak menentukan
satu makna tertentu untuk kata tersebut, karena apapun makna yang
dipakai, semua makna itu tidak akan mampu mewakili kata yang telah
dipilih oleh Allah untuk diri-Nya.
والتكييف غير معقول
“menguraikan kaifiyat nya tidak ma’qul” Maksudnya
: berbicara tentang kaifiyat nya adalah tidak masuk akal (mustahil),
bagaimana pun mengurai kaifiyat nya, namun yakinlah bahwa Allah tidak
seperti demikian.
والإيمان به واجب
“dan beriman dengan nya wajib” Maksudnya
: Wajib beriman dengan kata Istawa karena jelas penyebutan nya dalam
Al-Quran, bukan beriman dengan makna dhohir, sementara beriman dengan
makna dhohir adalah tidak boleh karena terdapat Tasybih padanya, maka
mengingkari makna dhohir tidak menjadi kafir karena nya, tapi kafir bila
ingkar kata Istawa, maka termasuk dalam orang yang beriman di sini
adalah orang yang bermanhaj Ta’wil.
والسؤال عنه بدعة
“dan bertanya tentang nya Bid’ah” Maksudnya
: Bertanya tentang Istawa Bid’ah dan bahkan membicarakan dan
menguraikan ini adalah Bid’ah, tapi mudah-mudahan ini Bid’ah hasanah,
karena para ulama telah menguraikan nya, selama tidak membicarakan
kaifiyat nya.
لأنه تعالى كان ولا مكان
“karena sesungguhnya Allah taala ada dan tidak ada tempat” Maksudnya
: Ini poin penting, apa hubungan nya dengan Istawa, seandainya makna
dhohir Istawa yaitubersemayam itu layak dengan keagungan dan
kesempurnaan Allah, maka tidak ada hubungan Istawa dengan pernyataan
Sayyidina Ali ini, tapi Sayyidina Ali mengatakan Allah telah ada dan
tidak ada tempat, artinya sebelum ada ‘Arasy Allah tidak bersifat dengan
bertempat/bersemayam, maka setelah menciptakan ‘Arasy juga demikian,
maka makna dhohir yang dipahami bahwa Allah bertempat atau bersemayam di
atas ‘Arasy setelah menciptakan ‘Arasy adalah tidak layak dengan
keagungan dan kesempurnaan Allah, karena terdapat Tasybih di dalam nya,
inilah hubungan antara pernyataan ini dengan Istawa.
فهو على ما كان قبل خلق المكان لم يتغير عما كان
“maka Allah tetap sebagaimana sebelum menciptakan tempat, Allah tidak berubah sebagaimana ada-Nya”.
Maksudnya
: Dzat Allah dan sifat-sifat Allah tidak berubah atau bertambah,
sebagaimana Allah ada sebelum menciptakan apapun, begitu juga Allah
setelah menciptakan makhluk-Nya dan selama nya, sementara Salafi Wahabi
percaya dan sangat yakin bahwa Allah berubah dan bertambah sifat-Nya
ketika menciptakan ‘Arasy dan langit. Na’uzubillah
Kesimpulan dari Tafsir an-Nasafi adalah : ·Sepakat ulama Salaf tidak memahami nash Mutasyabihat dengan makna dhohir, dengan dua metode Tafwidh makna dan Ta’wil makna. ·Kebanyakan ulama Salaf memilih Tafwidh dan sebagian ulama Salaf memilih Ta’wil. ·Ta’wil Istawa dengan Istaula adalah Ta’wil dari Manhaj sebagian Salaf. ·Ulama Salaf tidak anti Ta’wil. ·Manhaj Salaf bukan mentafwidh kaifiyat, tapi mentafwidh makna maksud kepada Allah.
Istawa Dalam Tafsir Imam al-Qurthubi Mulia
dengan Manhaj Salaf adalah selogan yang agung dan benar adanya, namun
ketika fakta nya mereka yang mereka yang selalu mengagung-agungkan
manhaj Salaf, pada kenyataan nya mereka sendiri sangat bertentangan dan
jauh menyimpang dari Manhaj Salaf, mereka hanya membanggakan diri, tapi
tidak ada yang bisa dibanggakan dari mereka, tidak mungkin ada kemuliaan
pada dua sisi yang saling bertentangan, itulah gambaran bagi para
pengikut Manhaj Wahabi, Manhaj Salaf versi mereka adalah Manhaj mereka
sendiri, tidak ada hubungan dengan Manhaj Salaf nya para ulama Salaf,
ini salah satu buktinya :
Imam al-Qurthubi menuliskan dalam Tafsir nya sebagai berikut :
وهذه
الآية من المشكلات، والناس فيها وفيما شاكلها على ثلاثة أوجه، قال بعضهم :
نقرؤها ونؤمن بها ولا نفسرها؛ وذهب إليه كثير من الأئمة، وهذا كما روي عن
مالك رحمه الله أن رجلاً سأله عن قوله تعالى ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ
ٱسْتَوَى,قال مالك : الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به
واجب، والسؤال عنه بدعة، وأراك رجل سَوْء! أخرجوه. وقال بعضهم : نقرؤها
ونفسّرها على ما يحتمله ظاهر اللغة. وهذا قول المشبّهة. وقال بعضهم :
نقرؤها ونتأوّلها ونُحيل حَمْلها على ظاهرها
“Dan
ayat ini sebagian dari ayat-ayat yang sulit, Dan manusia pada ayat ini
dan pada ayat-ayat sulit lainnya, ada tiga (3) pendapat : Sebagian
mereka berkata : “kami baca dan kami imani dan tidak kami tafsirkan ayat
tersebut, pendapat ini adalah pendapat mayoritas para Imam, dan
pendapat ini sebagaimana diriwayatkan dari Imam Malik –rahimahullah-
bahwa seseorang bertanya kepada nya tentang firman Allah taala
(Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsyi Istawa), Imam Malik menjawab : Istiwa’ tidak
majhul, dan kaifiyat tidak terpikir oleh akal (mustahil), dan beriman
dengan nya wajib, dan bertanya tentang nya Bid’ah, dan saya lihat anda
adalah orang yang tidak baik, tolong keluarkan dia”. Dan sebagian mereka
berkata : “kami bacakan dan kami tafsirkan menurut dhohir makna bahasa
(lughat)”, pendapat ini adalah pendapat Musyabbihah (orang yang
menyerupakan Allah dengan makhluk). Dan sebagian mereka berkata : “kami
bacakan dan kami Ta’wil dan kami berpaling dari memaknainya dengan makna
dhohir”.[Tafsir al-Qurthubi. Surat al-Baqarah ayat 29]
Imam
al-Qurthubi sangat shorih dalam menafsirkan ayat tersebut, dan beliau
juga sangat telilti dalam menjelaskanmetode dalam memahami ayat-ayat
mutasyabihat, dan kita tahu bagaimana aqidah Imam al-Qurthubi, mari kita
pahami syarahan dari Imam al-Qurthubi di atas.
وهذه الآية من المشكلات
“Dan ayat ini sebagian dari ayat-ayat yang sulit” Maksudnya
: Ayat tersebut termasuk dalam bagian ayat-ayat yang sulit, yaitu yang
sering disebut dengan ayat-ayat Mutasyabihat, memahami ayat ini tidak
segampang memahami ayat lain, menandakan ada “sesuatu” pada ayat
tersebut, karena memahami ayat ini dengan metode yang sama dengan ayat
lain, akan membuat seseorang terjebak dalam aqidah Tasybih, maka nya
Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa ayat tersebut termasuk dalam ayat yang
sulit, dan tertolaklah anggapan sebagian orang yang menyangka semua
ayat mudah dan ditafsirkan dengan cara yang sama.
والناس فيها وفيما شاكلها على ثلاثة أوجه
“Dan manusia pada ayat ini dan pada ayat-ayat sulit lainnya, ada tiga (3) pendapat” Maksudnya
: Setelah melakukan penelitian, Imam al-Qurthubi mendapati ada tiga
macam pendapat atau metode dalam memahami ayat-ayat Mutasyabihat, tiga
pendapat ini masih secara keseluruhan, mana yang benar dan mana yang
sesat, insyaallah akan kita pahami nantinya.
قال بعضهم : نقرؤها ونؤمن بها ولا نفسرها
“Sebagian mereka berkata : kami baca dan kami imani dan tidak kami tafsirkan ayat tersebut”
Maksudnya
: Pendapat pertama adalah mereka yang membaca dan beriman dengan kata
yang datang dari Al-Quran dengan tidak mentafsifkan nya, mereka
memperlakukan kata tersebut sebagaimana datang nya tanpa mentafsirkan
nya dengan kata lain yang sama artinya, metode mereka adalah tidak
mentafsirkan baik denganmakna dhohir atau makna Ta’wil, baik dalam
membaca atau mengungkapkan nya atau pun dalam mengimani nya, mereka
bukan mengimani makna nya karena mereka tidak mentafsirkan nya, inilah
yang disebut Tafwidh atau Ta’wil Ijmali, maka disini jelas kesalahan
orang yang mengatakan bahwa Tafwidh adalah Tafwidh kaifiyat bukan
Tafwidh makna maksud.
وذهب إليه كثير من الأئمة
“pendapat ini adalah pendapat mayoritas para Imam” Maksudnya
: Metode di atas adalah metode mayoritas Ulama, yaitu metode Tafwidh
makna maksud, dan beriman dengan mengungkapkan dengan kata yang datang
dari Al-Quran tanpa mentafsirkan nya dengan kata lain yang sama makna
nya. Dan Imam al-Qurthubi tidak membedakan antara Ulama Salaf dan Ulama
Khalaf, artinya metode tersebut bukan hanya metode Ulama Salaf, karena
Ulama Khalaf pun ada yang berpegang dengan metode ini, dan Ulama Salaf
pun ada yang tidak tetap atas metode ini pada sebagian ayat
Mutasyabihat.
وهذا كما روي عن مالك رحمه الله أن رجلاً سأله عن قوله تعالى ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَى
”dan
pendapat ini sebagaimana diriwayatkan dari Imam Malik –rahimahullah-
bahwa seseorang bertanya kepada nya tentang firman Allah taala
(Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsyi Istawa)” Maksudnya : Imam al-Qurthubi
memahami metode ini dari sebuah riwayat bahwa Imam Malik ditanyakan oleh
seseorang tentang ayat (Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsyi Istawa), dari jawaban
Imam Malik terhadap orang itu, Imam al-Qurthubi memahami bahwa Imam
Malik dalam bab Mutasyabihat bermanhaj Tafwidh, yaitu tidak
mentafsirkan atau tidak menterjemahkan kapada satu makna tertentu, tapi
menetapkan kata tersebut sebagaimana adanya, baik dalam bacaan atau
ungkapan atau pun dalam mengimani nya. Lihatlah bagaimana perbedaan
mendasar antara apa yang dipahami oleh Imam al-Qurthubi dan apa yang
dipahami oleh kaum Salafi Wahabi, lebih celakanya lagi Salafi Wahabi
menyandarkan pemahaman mereka yang sangat jauh melenceng itu kepada Imam
Malik dan para ulama Salaf lain nya.
قال مالك : الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة، وأراك رجل سَوْء! أخرجوه “Imam
Malik menjawab : Istiwa’ tidak majhul, dan kaifiyat tidak terpikir oleh
akal (mustahil), dan beriman dengan nya wajib, dan bertanya tentang nya
Bid’ah, dan saya lihat anda adalah orang yang tidak baik, tolong
keluarkan dia”
Maksudnya : Imam Malik menjawab bahwa lafadz
Istiwa’ tidak majhul, ada dua versi dalam memahami perkataan ini,
pertama : Tidak majhul artinya lafadh Istawa ma’lum karena telah datang
dalam Al-Quran, kedua : Tidak majhul artinya makna lughat Istawa ma’lum
dari bahasa Arab, namun kedua versi tersebut tidak saling bertentangan
karena sepakat bahwa Imam Malik tidak mentafsirkan nya kedalam makna
lughat atau makna dhohir, sebagaimana Imam al-Qurthubi dan Imam Ahlus
Sunnah lain nya, memahami dari pernyataan Imam Malik ini bahwa Imam
Malik memberlakukan lafadh tersebut sebagaimana datang nya tanpa
mentafsirkan nya dengan satu makna maksud, jadi jelaslah bahwa maksud
“tidak majhul” adalah bukan maklum makna maksud (makna murad).
Selanjutnya Imam Malik berkata : dan kaifiyat nya tidak ma’qul, artinya
kaifiyat nya mustahil pada Allah, bukan hanya sebatas tidak diketahui
oleh manusia, artinya Allah taala tidak bersifat dengan kaifiyat,
sementara Salafi Wahabi meyakini Allah bersifat dengan kaifiyat tapi
tidak ada dalil, dan mereka mentafwidh kaifiyat nya, bukan meniadakan
kaifiyat nya sebagaimana aqidah ahlus sunnah waljama’ah. Selanjutnya
Imam Malik berkata : danberiman dengan nya wajib, artinya beriman dengan
kata Istawa wajib hukum nya, dan kafirlah siapa pun yangmengingkari
Istawa, tapi bukan beriman dengan “Bersemayam” atau dengan makna lughat
Istawa lain nya, karena tidak pernah mentafsirkan kata Istawa, jadi di
sini pun maksudnya adalah beriman dengan kata Istawa bukan dengan makna
lughat Istawa. Selanjutnya Imam Malik berkata : dan bertanya tentang nya
adalah Bid’ah, menunjukkan ini adalah pembahasan baru yang tidak ada
dimasa Rasulullah, lalu Imam Malik meminta agar orang tersebut
dikeluarkan karena beliau melihat ia tidak bermaksud baik.
وقال بعضهم : نقرؤها ونفسّرها على ما يحتمله ظاهر اللغة
“Dan sebagian mereka berkata : kami bacakan dan kami tafsirkan menurut dhohir makna bahasa (lughat)”
Maksudnya
: Pendapat kedua adalah sebagian orang dalam bab Mutasyabihat memilih
metode membaca lalumentafsirkan atau menterjemahkan ke dalam arti
bahasa, inilah hakikat Manhaj Salafi Wahabi, tentunya sangat jelas
perbedaan metode mereka dengan metode Imam malik di atas, walau pun
mereka sandarkan metode mereka kepada metode Ulama Salaf, mereka tidak
menyadari ada bahaya besar di balik metode mereka, dan mereka tidak akan
pernah sadar telah berpaling dari aqidah Salaf, selama mereka menyangka
bahwa metode mereka sama dengan metode Salaf.
وهذا قول المشبّهة
“pendapat ini adalah pendapat Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk)”
Maksudnya
: Metode menterjemahkan ayat-ayat Mutasyabihat ke dalam arti lughat
adalah metode kaum Musyabbihah dulu, artinya dengan berpegang dengan
metode ini maka dengan sendiri nya sudah termasuk dalam Musyabbihah
(menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), karena dalam metode tersebut
tersimpan Tasybih. Manhaj inilah yang didakwahkan oleh Salafi Wahabi
atas nama Tauhid, tapi ternyata Tauhid yang mereka tegakkan hanyalah
Tauhid Musyabbihah. Dan dari pernyataan ini dapatlah diketahui bahwa
Imam al-Qurthubi tidak setuju dengan metode ini, dan dari tiga macam
metode yang ada hanya metode ini yang tidak berjalan atas Manhaj Ahlus
Sunnah Waljama’ah.
وقال بعضهم : نقرؤها ونتأوّلها ونُحيل حَمْلها على ظاهرها
“Dan sebagian mereka berkata : kami bacakan dan kami Ta’wil dan kami berpaling dari memaknainya dengan makna dhohir”
Maksudnya
: Pendapat ketiga adalah sebagian orang yang memilih metode membaca
lalu menta’wil atau mentafsirkan nya dengan makna yang layak dengan
kesempurnaan Allah, bukan dengan makna lughat, dan dari pernyataan ini
dapat diketahui bahwa Imam al-Qurthubi tidak mencela metode ini, dan
menghargainya selayak nya sebuah khilafiyah, dan Imam al-Qurthubi juga
mengatakan bahwa metode ini bukan Manhaj Salaf atau bahkan bertentangan
dengan Manhaj Salaf, karena sebagian Salaf juga melakukan Ta’wil pada
sebagian ayat Mutasyabihat, cuma mayoritas Ulama lebih memilih metode
pertama di atas dari metode ini.
Hasbunallah wa ni’mal wakil,
semoga Salafi Wahabi segera kembali ke Hakikat Manhaj Salaf di atas,
bukan hanya di bibir saja tapi mati-matian membela Manhaj Musyabbihah
Mujassimah, sementara Manhaj Salaf terlepas dari mereka. Wallahu a’lam.